Langsung ke konten utama

Kuliah itu menulis

Image by Brent Gorwin

Setelah studi S2 saya selesai, ada satu pertanyaan yang terus terulang di dalam pikiran saya, berapa banyak kata yang sudah saya tulis selama menempuh pendidikan S1 dan S2? Pertanyaan tersebut muncul karena kuliah saya selalu dipenuhi oleh tugas-tugas yang mewajibkan saya untuk menulis, seperti report, essay, jurnal, atau litelature review. Jarang sekali ada ujian tulis pilihan ganda atau yang kerap disebut di kalangan mahasiswa sebagai sit in exam. Ujian tipe tersebut dapat dihitung ja
ri selama 5 tahun saya kuliah.

Karena saya punya sistem penyimpanan dokumen yang cukup rapi, maka mudah saja bagi saya untuk mengumpulkan kembali semua tugas-tugas saya ke dalam satu folder dan mengecek satu per satu word count dari tugas-tugas saya tersebut. Mulai dari semester satu di Universitas Indonesia hingga semester terakhir di The University of Sydney. Setelah menghitung dari total 207 item, ternyata saya telah menulis 62,852 kata. Wow, jumlah yang cukup besar bagi saya, mengingat menulis bukan skill yang natural ada di dalam diri saya. Sebagai perbandingan, novel Harry Potter and The Philosopher’s Stone karya J.K Rowling terdiri dari 76,944 kata. Artinya, hampir saja selama 5 tahun saya sudah menulis setara dengan novel pertama dari series Harry Potter.


Sebagai catatan, saya tidak menulis tesis di kuliah S1 maupun S2 saya. Saya lebih memilih untuk mengambil internship atau pengalaman kerja magang. Apabila saya menulis tesis di kedua jenjang studi tersebut, maka sudah pasti total word count ada di kisaran 6 digit. Saya juga tidak mengkalkulasi kata yang saya tulis di dalam file-file presentasi. Jadi sebenarnya figur angka tersebut bisa lebih tinggi, mengingat saya begitu banyak memberikan presentasi selama kuliah.

Lalu apa sebenarnya manfaat dari menulis? Mengapa program kuliah menyuruh kita untuk menulis begitu banyak? Menurut artikel dari Curtin University, secara umum menulis saat kita kuliah itu adalah bagian dari pembelajaran dimana kita mengeksplor pemahaman kita tentang suatu subjek materi. Tugas menulis menantang murid untuk dapat memberikan pendapat dari materi-materi yang telah di berikan di dalam kelas. Pendapat tersebut di tulis dalam format yang telah di tentukan, sehingga tulisan tersebut jelas adanya dan mempunyai standar di dunia akademis.

Saya melihat tugas menulis essay sebagai hal yang seru dan menantang, karena apabila dibandingkan dengan ujian tulis yang sangat kaku, dimana kita harus menghadapi pertanyaan dengan pilihan jawaban ganda yang pasti, di essay kita dapat mengeksplor pemahaman kita dengan mengkaitkannya pada bukti nyata di luar sana. Lama kelamaan, menulis essay menjadi hal yang menyenangkan buat saya, karena saya seperti menjadi detektif, mencari data dan bukti untuk dikaitkan dengan argumen yang akan saya sampaikan. Merumuskan strategi berupa outline yang akan menjadi tulang punggung essay saya.

Nyatanya, di dunia kerja kemampuan menulis pun sangat penting dan dihargai oleh para employer. Seringkali saat kerja kita disuruh membuat proposal, menyusun strategi, dan mengirim email yang begitu banyak jumlahnya. Kemampuan menulis yang baik akan dapat menyampaikan gagasan dengan baik. Beberapa profesi tentunya menuntut seseorang untuk mempunyai kemampuan menulis yang di atas rata-rata, seperti jurnalis, reporter, atau copywriter.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya bukanlah penulis natural. Menulis tidak ada di dalam jiwa saya, melainkan sebuah skill yang ada karena tuntutan. Karena kuliah saya menugaskan untuk menulis, maka mau tidak mau saya harus bisa menulis. Awalnya cukup sulit, apalagi kuliah saya full dalam bahasa Inggris sejak semester pertama S1 di Universitas Indonesia. Lambat laun, tulisan saya membaik, baik secara pilihan kata, grammar, maupun struktur. Sangat terlihat sekali ketika saya membuka file tulisan saya satu persatu dari awal S1 hingga akhir S2, begitu banyak perubahan yang terjadi. Tentunya proses ini panjang, butuh waktu, dan cukup melelahkan. Banyak self-learning yang perlu saya lakukan dan mengikuti kelas-kelas menulis tambahan.

Bahkan ketika saya memasuki semester pertama di kuliah S2, saya memutuskan untuk mengambil mata kuliah Academic English for Postgraduate, yang isinya fokus melatih kemampuan menulis khusus untuk mahasiswa pasca sarjana. Mengapa? Karena saya tahu dan sadar diri bahwa kemampuan menulis saya dalam konteks bahasa inggris masih belum cukup. Terbukti ketika saya mengambil IELTS yang kedua kali-nya, 2 tahun setelah test IELTS yg pertama, band writing saya tetap yang paling rendah dibanding band penilaian lainnya. Pun terbukti setelah selesai semester 1, mata kuliah tersebut nilai-nya paling rendah dibandingkan mata kuliah lain-nya. Bukti kuat bahwa saya masih harus banyak belajar dalam menulis.

Bagaimana cara jago menulis? Tidak lain jawabannya adalah dengan terus menulis! Learn by doing adalah strategi paling baik, tidak hanya dalam konteks menulis, tapi konteks apapun dalam hidup ini. Karena itulah saya menulis di dalam blog saya ini, untuk tetap menjaga kemampuan menulis saya, mencurahkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Syukur-syukur membagi informasi yang bermanfaat buat netizen. Mungkin sekali-kali juga saya menulis dalam bahasa Inggris, agar skill yang sudah susah payah saya raih tersebut tidak hilang semerta-merta.


Apabila anda punya waktu, coba share di kolom komentar berapa banyak kata yang telah anda tulis selama kuliah? Saya penasaran dan berbagai macam jurusan bisa menjadi perbandingan yang menarik. 

Komentar

  1. We were born to write, to deliver the value we trust towards things that happen around us. It is important to have that skill of delivering a message through writing, so that people won’t miss-understand what they should receive

    BalasHapus

Posting Komentar